Tentang Matematika, Wawancara Dengan Prof.Hendra Gunawan (Guru BesarMatematika ITB)

Matematika disampaikan dengan bahasa yang sangat sederhana menjadi alasan utama kenapa wawancara dengan Prof.Hendra Gunawan ini di share ulang disini. Para guru secara umum kesulitan memberikan jawaban untuk pertanyaan sederhana tentang matematika, misalnya apa itu matematika? atau bagaiamana cara belajar matematika yang baik?. Hasil wawancara berikut mungkin dapat memberikan satu pencerahan kepada kita tentang matematika itu sendiri.
Bapak Prof. Hendra Gunawan adalah Guru besar matematika di ITB dan untuk mengetahui lebih jauh tentang Prof.Hendra dapat disimak melalui Pythagoras dan Euclid.

Salah satu Tugas profesor adalah meneliti. Penelitian matematika itu seperti apa? Apakah harus menciptakan [atau menemukan] rumus baru?
Penelitian matematika pada dasarnya sama dengan penelitian bidang lainnya, yaitu memperluas khasanah pengetahuan, yaitu dengan menjawab pertanyaan yang muncul dari teori atau hasil penelitian sebelumnya. Hasilnya bisa berupa dalil atau rumus baru, atau secara umum teori baru yang melengkapi atau menyempurnakan teori sebelumnya. Sebaga contoh dalil Pythagoras itu sekarang tidak melulu soal segitiga siku-siku, tapi berlaku untuk sejumlah vektor yang saling tegak lurus di ruang Hilbert [nah lho!].
Di blog, Prof mengatakan “My areas of interest are Fourier analysis, functional analysis, and their applications. “Mengapa Prof memilih itu sebagai area of interest? [Btw terjemahan yang tepat untuk area of interest, apa yach?]
Sejak S1 saya jatuh hati pada cabang analisis matematika. Ketika studi di Australia, saya mendalami cabang ini lebih jauh. Dua area tersebut merupakan titik temu dari banyak cabang lainnya. Selain itu bekal pengetahuan yang saya miliki mendukung untuk mendalaminya. Jadi ya saya pilih area tersebut.
Matematika itu apa, Prof?
Wah, ini pertanyaan filosofis, saya belum tentu bisa menjawabnya secara filosofis. Bagi saya, matematika itu “dunia lain” yang bisa ditembus oleh kemampuan berpikir dan imajinasi manusia. Di dunia ini, kita bisa menemukan banyak keindahan. Begitu punya kunci masuk ke dunia ini, anda akan datang terus ke sana. Tak sedikit pula yg indah di dunia matematika itu bisa diterapkan di dunia nyata di mana kita hidup. Jadi, selain indah, matematika itu berguna.
Pertanyaan klasik, matematika ditemukan atau diciptakan?
Ah, ini juga filosofis! Saya tidak pernah memikirkannya, saya hanya menjalani dan menikmatinya. Kadang saya merasa “menemukan” [misal rumus], kadang saya “menciptakan” [misal simbol dan istilah], namun sering kali tidak tahu bedanya [misal metode]. Yg pasti, saya menikmati keindahannya!
Saya pernah ditanya siswa SMA, Buat apa belajar Matematika? Untuk apa susah-susah belajar Trigonometri, Integral, dalam sehari-hari jarang kepakai ini?
He3x, itu karena belum tahu saja. Tugas guru mencerahkan siswa. Makanya perlu baca sejarah matematika. Dulu misalnya trigonometri dipakai untuk menghitung jari-jari bumi dan jarak matahari ke bumi. Kalau sehari-hari cuma ngobrol, makan, jalan-jalan ke mal ya tidak perlu matematika [yg canggih]. Tapi apa hidup cuma itu? Siswa perlu dicerahkan bagaimana kemajuan peradaban [di negara lain] dicapai.
Punya pendapat tentang perkembangan matematika di Indonesia?
Ketika saya berpidato di Sidang Majelis Guru Besar ITB saya sampaikan pendapat saya tentang hal ini. Cuplikan naskah pidato saya tersebut dapat diunduh dari blog personal saya http://personal.fmipa.itb.ac.id/hgunawan/various-articles/. Singkat cerita, walau ada kemajuan dalam 20 tahun terakhir, kita masih tertinggal dalam matematika dibandingkan dengan negara sekecil Singapura. Perlu beberapa generasi mendatang untuk mengejar ketertinggalan tersebut, itupun kalau negara lain tidak makin kencang larinya.
Pada pertemuan kita terakhir, Prof berbicara tentang gelar budaya bernalar. Nah.. bernalar itu apa, Prof?
Begini, salah satu masalah dengan bangsa kita tersirat dalam dua pertanyaan sebelumnya. Kita tahu bhw kita tertinggal, dan kita ingin maju. Tapi tahukah kita apa yang membuat bangsa lain maju? Mereka telah melalui “Era Bernalar”, the age of reason. Kekuatan manusia di situ, bisa berpikir, bernalar, menemukan jawaban mengapa ini begini dan itu begitu, bukan mengarang mitos sendiri atau menerima mitos yang ada. Bernalar itu, singkat kata, mendayagunakan kemampuan berpikir dan akal sehat kita. Kalau sulit, ya belajar, jangan lari [ke takhayul, misalnya]. Bangsa ini perlu bernalar!
Terakhir, Apakah Prof punya saran bagaimana belajar Matematika yang benar?
Wah, saya tidak berani mengatakan ini atau itu yang benar. Yang pasti, belajar itu wajib, selama kita masih bernafas. Belajar Matematika itu perlu, otak manusia dibekali dengan kemampuan untuk itu — sayang kalau tidak dipakai. Seperti belajar main piano, kalau hanya baca buku tentu tidak akan bisa. Jadi harus “by doing”, praktik, kerjakan, rekonstruksi, lakukan penelitian. Untuk belajar Matematika ya harus “bermatematika”, dan, seperti halnya olahraga, harus rutin.

Begitulah wanwancara singkat yang dilakukan oleh Materi Ajar vs Proses Belajar dan Tantangan ITB [dan PT Lainnya] Sebagai Agen Perubahan Budaya.

Sebagai penutup kami tambahkan apa yang disampaikan oleh Albert Enstein yaitu "Jika Anda tak dapat menjelaskannya secara sederhana, maka anda belum memahaminya dengan baik”. Terima kasih.
Hendra Gunawan, Lahir di Bandung pada tahun 1964, adalah seorang matematikawan. Beliau menjadi dosen di Institut Teknologi Bandung sejak tahun 1988 dan mendapat gelar doktor dalam bidang Matematika dari University of New South Wales Sydney, pada tahun 1992. Selain sering menulis di media massa, beliau juga mengasuh beberapa blog untuk memopulerkan matematika dan sains, antara lain indonesia2045.com | anakbertanya.com | bersains.wordpress.com | bermatematika.net/
Beberapa waktu lalu Bapak Hendra Gunawan diwawancarai secara langsung oleh Jawa Pos TV dalam acara "Bermatematika Bersama Guru Besar Matematika ITB"


Sumber https://www.defantri.com/

Posting Komentar

0 Komentar